Home

Pages

Monday, July 13, 2015

Akhir Sebuah Penantian

Mereka sudah menjalin hubungan sejak usia alesa 14 tahun dan usia putra 15 tahun sampai alesa lulus sma mereka pun masih menjadi sepasang kekasih. sore itu langit sedang cerah, matahari mulai tersenyum lagi ketika sang ratu cengeng pergi dan para bidadari sedang menari menghiasi langin dengan cahayanya yang berwarna-warni. ketika itu alesa sedang duduk di atas batu besar di sawah dekat rumahnya, ia sedang menunggu sang pujaan hati.

Lima menit berlalu sang pujaan pun hadir dengan membawa makanan ringan, ia menghampiri sang kekasihnya yang terlalu lama menunggunya “assalamualaikum..!!” “waalaikumsalam..” ia terkejut melihat sang pujaan hatinya telah datang, maklum belakangan hari ini ia sering melamun memikirkan tentang sekolah nanti. Putra pun duduk di samping alesa dan dibatasi dengan kantung plastik yang berisi makanan ringan sebab bila mereka duduk berdekatan mereka takut akan ada setan yang menggoda dan mereka pun tidak hanya berdua, banyak orang yang berlalu lalang ke sawah dan banyak anak kecil yang sedia bermain.

Ketika mereka sedang duduk di atas batu besar. alesa menanyakan tentang perasaan sang pujaan hati ketika 9 tahun yang akan datang. “kak apakah kakak masih akan mencintaiku seperti pertama kali kita bertemu?” dengan wajah sendu ia menatap sang pujaan hati. “dek sampai kapanpun cintaku tak akan pernah berubah padamu, meski 10 tahun yang akan datang aku akan tetap mencintaimu”. “jika nanti adek lanjut sekolah dan adek pergi dari sini apakah kakak masih mau menunggu adek?” dengan mata yang seakan ingin berbicara jangan tinggalkan kakak, ia pun menjawab “kakak akan selalu setia menunggu adek pulang kakak”. mendengar jawaban dari sang pujaan hatinya alesan pun tenang dan semakin percaya pada kekasihnya.

Sebenarnya putra tak ingin berpisah dengan sang kekasih tapi demi sang kekasih bahagia ia harus merelakan sang kekasihnya pergi. dengan suasana yang beku putra pun membuka pembicaraan dengan sebuah teka-teki sehingga membuat suasana menjadi cair dan mereka berdua tertawa menghilangkan sejenak kesedihan yang ada di hati.

Di tahun 2012 diawal sebelum mereka menjalin hubungan alesa mengajukan beberapa syarat, yang semua syarat alesai disetujui oleh putra dan mulai saat itu sampai sekarang mereka masih menjadi sepasang kekasih yang saling menyayangi, menjaga, saling mendukung satu sama lain dan saling percaya. di tahun 2012 mereka banyak membuat janji, janji untuk sehidup semati, janji saling menyanyangi, janji tuk mendukung dan sampai janji untuk menikah pun mereka buat. mereka berjanji jika umur alesa 23 dan putra 24 mereka akan menikah dan putra harus sabar menunggu sang kekasih selesai bersekolah. alesa sangat percaya pada putra karena ia adalah seorang lulusan pesantren yang baginya orang baik-baik, mengerti banyak ilmu tentang agama dan bisa menjadikannya seorang muslimah dengan nasihat dan ilmu agama yang selalu diberikan oleh putra padanya.

“Kak tiga puluh menit lagi adzan berkumandang kita pulang yuk!” “makasih ya dek udah ngingeti, yuk kita pulang”. sepasang sejoli pun pulang dan kebetulan mereka tinggal di desa yang sama sehingga tidak membuat payah putra untuk mengantarkan sang kekasihnya pulang mesikpun dengan berjalan kaki, sebab dua sejoli itu telah sering merasakan susah senang bersama, hujan panas pun sering mereka lalui bersama-sama.

Hari berganti tahun, ini lah tahun yang ditunggu-tunggu oleh alesa tapi tidak untuk putra, putra tak bisa membayang jikalau ia jauh dari sang kekasih. malam minggu yang tenang yang hanya terdengar suara lantunan ayat suci al quran yang dilantunkan oleh alesa terdengar handphone berdering alesa mendengar tapi alesa melanjutkan mengajinya sampai ayat berikutnya dan lewat dari jam 10 alesa mengakhiri mengajinya, “alhamdulilah semoga apa yang telah ku baca akan diRidhoi Allah aminn..” dan ia pun mencari handphone yang ia sendiri pun lupa meletakkannya dimana, “alhamdulilah akhirnya ketemu juga!” ia segera duduk di meja belajarnya dan mulai membaca pesan yang dikirimkan oleh sang pujaan hati.

assalamualaikum.
Dek maaf ya kakak ganggu, kakak cuma mau bilang kalau besok bakda zuhur kakak jemput adek. kakak mau nanya serius. Ya udah jangan malem-malem ya dek.
Alesa penasaran kak putra mau ngomong apa, dengan hati yang sedikit gelisah alesa membalas pesan sang pujaan hatinya yang dari jam 9 tadi dikirim, kebetulan mereka berdua sering mengaji sampai larut malam dan terkadang hanya sebentar tertidur dan dilanjutkan dengan shalat malam, mereka sering melakukan hal itu. alesa pun membalas pesan sang pujaan hati
waalaikumsalam.

Maaf ya kak adek baru bales, Iya kak. Hmm.. kalau adek boleh tahu kita besok mau kemana kak? dan nanya serius soal apa kak? ya udah kalau kakak dah tidur
Assalamualaikum.

Putra pun baru saja menutup alqurannya. Dan kebetulan pesan alesa tiba, putra pun duduk di atas tempat tidurnya mencari posisi duduk yang nyaman dan mulai membaca pesan yang dikirimkan oleh sang kekasihnya. Setelah membaca pesan tersebut putra tak ingin kekasihnya penasaran jadi putra menutupinya dengan sebuah kata-kata yang membuat hati kekasihnya tak penasaran lagi..
Iya dek, Kakak mau ngajak adek ke suatu tempat. Kakak mau nanya serius tentang berapa banyak kambingnya ibrahim as?!

Alesa pun hanya tersenyum membaca pesan yang dikirimkan sang pujaan hatinya dan alesa pun tidak penasaran lagi..

Keesokkan harinya sesudah bakda zuhur putra menjemput sang kekasih dan mengajaknya ke tempat yang tidak asing lagi bagi mereka berdua. Terdengar ucapan salam yang suaranya tak asing bagi alesa “Assalamualaikum..!!” “waalaikumsalam” alesa segara membuka pintu dan menyuruh sang pujaan masuk. dengan wajah yang berseri-siri dan senyum yang sangat manis alesa mempersilahkan sang pujaan hati tuk masuk ke rumah. “Ayo kak silahkan masuk! di dalam ada ibu dan bapak”. Melihat wajah sang kekasih yang begitu indah putra pun semakin tak rela untuk jauh dari dirinya. “iya dek, assalamualaikum!!” “waalaikumsalam”. Ia pun bertemu kedua orangtua alesa sebenarnya kedua orangtua alesa tahu tentang hubungan mereka berdua malahan hampir seluruh warga desa tahu tapi untuk menjauhkan dari perbuatan yang tidak baik dan menghindari dari perkataan warga yang mungkin tidak senang dengan mereka berdua. Ia pun harus menjaga jarak sebab jika berhubungan jarak dekat itu adalah ujian iman jadi mereka harus menjaga iman dan keteguhan mereka agar tidak terjerumus ke dalam lubang yang penuh dosa.

Putra pun pamit kepada ibu bapak alesa dengan mengajak alesa ke suatu tempat yang tidak asing lagi bagi mereka berdua. “Kak kita mau kemana?” tanya alesa menatap mata sang pujaan hati yang seakan ingin berbicara jangan bawa aku pergi jauh. Dengan senyum yang lembut putra pun menjawab “adek pasti tahu kok tempatnya kita kan sering kesana!” tempat itu tak begitu jauh dari desa tersebut. Mereka sering bilang jembatan tapi sebenarnya itu jalan setapak yang di kanan kirinya banyak sawah yang ditanami tanaman padi. mereka sering datang ke tempat itu kadang Cuma ingin melihat-melihat orang yang sedang di sawah dan melihat anak-anak kecil yang sedang asik bermain air.

Mereka berdua duduk di sisi jembatan sambil memandang pak tani yang sedang sibuk mengusir burung yang hendak memakan padinya. Putra membuka pembicaran dengan kata-kata. “Maafin kakak ya dek!!” dengan wajah yang bingung alesa pun menatap mata sang pujaan hatinya seakan ingin berbicara ada apa kak. Alesa pun menjawab “ada apa kak kok kakak ngomong kayak gitu! emangnya kakak salah apa?!” sambil berusahan memcairkan suasana. dengan menundukan kepalanya putra mulai mencurahkan semua yang ada di dalam perasaannya. “Dek sebenarnya kakak tidak rela jauh dari adek ini sebenarnya tahun yang tidak ingin kakak alami, kakak tidak mau jauh dari adek, kakak akan melakukan apa saja asalkan adek tetap disini bersama kakak. ini yang selama ini kakak takuti kakak takut berpisah dengan separuh jiwa kakak”. Mendengar perkataan kak putra air mata alesa pun mengalir jatuh dan melihat hal itu putra pun langsung memegang kepala wanita yang sangat ia cintai itu dan langsung membelainya sambil berkata “maafkan kakak dek”. “Kak kenapa kakak baru ngomong sekarang?” “dek kakak tak ingin memutuskan semangat belajar adek, kakak ingin melihat adak bahagia tapi di sisi lain kakak tidak bisa jauh dari adek orang yang sangat kakak cintai”. hati alesa semakin bingung, alesa sangat benci dengan sebuah pilihan, pilihan yang membuatnya hanya membahagiakan satu pihak saja. “Kak adek sudah lama ingin sekali melanjut ke perguruan tinggi dan itu pun syarat yang kakak sanggupi, adek minta kita saling mendukung lagian adek cuma sebentar kok kak disana, adek janji adek akan kembali membawa cinta yang kakak amanahkan. Adek janji kita saling percaya ya kak”. Perasaan putra sudah lega sudah mencurahkan semua yang ada di dalam hatinya tapi perasaan takut masih menghantui putra tak ingin jauh dari sang kekasih dan sebenarnya alesa pun juga tak ingin jauh dari sang pujaan hatinya tapi demi mencapai cita-citanya ia harus mengorbankan sebuah cinta yang telah lama ia bina.

Hari yang begitu cerah tiba-tiba mendung dan semua orang yang ada di sawah berlari untuk kembali ke pondok. Mereka berdua pun mencari tempat untuk berteduh. Di bawah pohon yang di bawahnya terdapat tempat duduk mereka pun duduk berdua disana. Suara sang raja atom membelah langit dan membuat sang ratu cengeng semakin menangis.. mereka melanjutkan obrolannya di tengah sang ratu menangis alesa pun ikut menangis juga.

Hujan telah reda, matahari telah bangkit kembali. Sepasang sejoli pun pulang dengan hati yang tak seindah ketika mereka pergi. “Ya sudah dek kita pulang yuk!” sepanjang perjalanan alesa tak mengucapkan kata-kata sedikit pun. Sampai di depan rumah alesa, “ayo kak masuk. Assalamualaikum!!” “waalaikumsalam..” putra bercengkrama dengan kedua orangtua alesa sementara alesa masuk membuatkan air hangat buat sang pujaan hatinya yang sedang kedinginan. “Silahkan diminum kak!” “makasih ya dek”. Hampir lima belas menit bercengkrama putra pun pamit untuk pulang. Pak “bu udah sore saya permisi pulang dulu ya. Dek kakak pulang assalamualaikum!” “waalaikumsalam”

Hari demi hari telah mereka lalui bersama. Hari ini hari pelepasan kelulusan ku, aku berharap semua berjalan dengan lancar dan semua keinginanku akan tercapai semuanya amiinnn.. alesa mengirimkan pesan kepada sang pujaan hati. “kak besok adek mau pergi keluar kota adek mau kuliah disana kakak mau kan nganter adek?” dengan perasaan yang tak rela jauh dari sang kekasihnaya, ia menyanggupi untuk mengantarkan sang kekasihnya pergi. “Iya dek besok kakak akan antar adek..” “terimakasih ya kak!” semalaman putra tak bisa tidur memikirkan sang kekasih begitu pula alesa tak bisa tidur memikirkan sang pujaan hatinya jika ia pergi meninggalkan sang pujaan hati, apakah sang pujaan hati akan selalu setia menunggu! putra pun bertanya pada hatinya apakak sang kekasihku akan selalu setia padaku!

Minggu pagi alesa sudah siap dan hanya tinggal menunggu sang kekasih menjemput tapi rasa di hatinya tak rela meninggalkan sang pujaan hati ia sempat menangis mengingat hari minggu yang lalu, hari yang indah bersamanya.. “assalamualaikum!!” “waalaikumsalam..” “dek sudah siap!” dengan wajah yang sedikit kecewa, “iya kak”, Sambil menghapus air matanya. “adek nangis ya?” “enggak kak cuma kelilipan”, “Hmm.. o ya dek jam berapa mau perginya?” “sekitar jam 9an kak”. “Jadi masih ada waktu donk!” “waktu apa?”

Putra mengajak alesa pergi sebentar dan membuat janji di suatu tempat. “Kak kita kan sudah janji kalau umur adek 23 dan umur kakak 24 kita akan menikah”. “Iya dek, jadi?” “jadi nggak papa kan kalau adek pergi!” “iya nggak papa asal adek kembali lagi sama kakak”. “Iya kak adek janji adek akan kembali lagi sama kakak dan sesudah adek kembali kesini kakak langsung melamar adek kan?” “iya dek. Dan pas di hari ulang tahun adek ke 23 kita ketemuan di depan masjid ini ya dek, kakak tunggu dari fajar sampai tengah malam dan inget dek temukan kakak dengan hati dan perasaan adek!” “iya kak, Ya udah yuk kita pulang”. Kita pamit terus kita pergi.. “yuk dek!..”

Setelah sampai dipelabuhan alesa tak bisa menahan rasa sedih dan putra pun sebenarnya ingin memeluk alesa tapi putra sangat menyayangi dan sangat menjaga orang yang dia cintai itu dan menjaga cinta ini agar tak ternodai dengan perbuatan yang tercela.. dengan nada lembut dan raut wajah yang sendu ia meminta doa kepda kedua orangtuanya, “pak bu aku pergi aku minta doa ibu sama bapak ya”. “Iya nak bapak dan ibu selalu mendoakan mu. Jaga diri baik-baik ya nak”. “Iya pak buk..” alesa menatap sang pujaan hati yang menahan rasa sedih. “Kak adek pergi ya, kakak jaga kesehatan berdoa ya kak semoga kita bersatu lagi aminn..” putra pun menitihkan air mata. “Adek jaga diri baik-baik ya, rajin shalat dan jaga kesehatan”. “Iya kak makasih ya kak, Ya udah adek pergi dulu ya pak bu kak assalamualaikum!!” “waalaikumsalam”

Aku masuk kuliah di jurusan kedokteran. Aku akan menyelesaikan studi ini dan kembali ke kampung halaman ku dan bertemu sang pujaan hati.

Satu tahun berlalu mereka berkomunikasi dengan hanya berbicara melalui handphone tanpa melihat wajah satu sama lain. Sebenarnya mereka saling rindu tapi apa daya jarak memisahkan mereka dan ini adalah ujian cinta di antara mereka

Hari telah berganti tahun dan ini adalah tahun yang sangat ditunggu-tunggu oleh alesa. Besok adalah hari ia wisuda dengan gelar dokter. Dan ibu bapaknya diundang sengaja ia tak mengundang putra karena biar ia ingin ini menjadi kado yang spesial buat pernikahannya nanti.. hari ini hari yang ku tunggu. Aku lulus dengan nilai yang memuaskan. 

Alesa bersama keluarganya kembali ke kampung halamannya. bertepatan besok ulang tahun alesa. Alesa memutuskan untuk shalat subuh di masjid dan kebetulan putra pun shalat di masjid putra ingat bahwa besok adalah hari ulang tahun sang kekasihnya jadi ia akan menunggu sang kekasih di masjid sambil shalat subuh disana. “Alhamdulilah akhirnya usiaku sudah 23 tahun dan alhamdulilah aku masih bisa bangun untuk menunaikan shalat Mu..” memang seminggu ini putra dan alesa sepakat untuk mematikan handphonenya karena biar menjadi kejutan. Aku berjalan menuju dapur untuk mangambil air wudhu dan ku lihat ibu sedang mengambil air wudhu. Jadi aku menunggu dan aku mendengar suara yang tak asing lagi di telingaku yang sedang menjadi muazin. “Syah kamu mau ngambil wudhu”. “Iya ibu. O ya bu aku shalat subuh di masjid ya!” “iya hati-hati ya nak”. “Iya bu !!..”

Keluar dari rumah aku mencium aroma yang beberapa tahun belakangan tak pernah aku cium aroma sesegar ini. Ku melangakah menuju masjid dan mulai melangkah masuk dengan hati yang tenang dan bahagia. Setelah shalat subuh berjamaah hatiku kembali berdebar.. dan putra pun merasakan apa yang kekasihnya rasakan. Putra keluar menunggu di bawah tangga tempat yang dimana telah mereka janjikan untuk bertemu disana. Alesa pun keluar menuju tangga dan ia melihat seseorang yang sedang duduk di bawah tangga, Putra pun menghampiri kekasihnya yang lama tidak pernah bertemu dan putra langsung melamar sang kekasih.

*Karya: Tika Asela Sari

Comments
0 Comments