Home

Pages

Inspirator Kebaikan buat Orang Lain

Teruslah Berusaha Menjadi Pribadi yang Senantiasa Menginspirasi Orang Lain.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Ketua STIKES Andini Persada Mamuju

Ns. Edi Purnomo, S.Kep., Me.Kes., M.Kep.ketika Acara Wisuda Mahasiswa Tahun 2015.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

D'Inspirator, Amirullah B

Seorang Motivator Nasional yang Berasal dari Lingkup STIKES Andini Persada Mamuju.

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Sunday, February 21, 2016

Peranan Filsafat dalam Perguruan Tinggi

Bahwa bukan hanya manusia, belajar pun dilakukan hewan dalam setiap langkah kehidupannya. Burung mengajarkan anak-anaknya terbang, kera mengajarkan anak-anaknya mencari dan memilih buah, harimau mengajarkan anaknya berburu. Hampir setiap pengajaran bertujuan mempersiapkan mahluk-mahluk hidup untuk menghadapi kehidupan di kemudian hari.

Berbeda dengan hewan, manusia memberikan istilah yang berbeda dari sekedar belajar. Bila hewan bergerak dan berkehidupan lebih banyak ditentukan oleh naluri dan instinknya, maka pada manusia tentu berbeda.

Manusia memberikan bekal secara paket lengkap berupa rangkaian pengajaran yang berjenjang berirama. Mulai saat baru lahir kemudian menyusui, ibu akan mengajarkan tentang cara menghisap susu yang baik agar bayi dapat menyusu secara optimal. Tidak sekedar berkomunikasi, manusia belajar tentang cara berkomunikasi yang baik. Tidak hanya sekedar berjalan, manusia belajar tentang bagaimana cara berjalan. Tidak hanya sekedar duduk, manusia belajar tentang cara duduk yang baik. Bahkan makan, minum, tertawa hingga tentang semua cara memenuhi kebutuhan biologisnya, manusia selalu belajar hingga mampu menyesuaikan diri sesuai dengan waktu, tempat, keperluan dan keberadaannya.

Secara teori, pengajaran berupa:

1.    Penerusan pengetahuan dari sebuah generasi ke generasi berikutnya;

2.    Persiapan generasi berikutnya agar secara mandiri mampu bertahan dalam menghadapi kehidupan;

3.    Pembentukan generasi berikutnya agar dapat menjadi bagian dari sebuah kelompok atau komunitas kehidupan;

Bila jaman dahulu, manusia mempelajari segala sesuatu mengalir begitu saja mengikuti perkembangan yang ada. Semakin hari, manusia merasa perlu membuat berbagai pengukuran sebagai standar penilaian. Pembuatan standarisasi penilaian bertujuan untuk lebih memudahkan pengarahan pengelompokan generasi berikut sesuai dengan kemampuannya. Hasil analisa kemampuan tersebut, akan lebih mempermudah penempatan posisi-posisi hasil didikan agar bisa mengimplementasikan diri secara optimal didalam masyarakat.

Harapan para pendidik, agar generasi berikut kelak dapat menjadi lebih baik dari generasi sebelumnya. Secara individu, para pendidik mengharapkan hasil didikannya dapat menjadi bagian terbaik dari sebuah kelompok masyarakat.

Bila awalnya standar penilaian merupakan hasil dari pengukuran kemampuan seorang anak didik terhadap penerimaan materi yang diterimanya, dan atau merupakan cara mengukur seorang pendidik dalam meneruskan (mentransfer) ilmu kepada anak didiknya, maka saat ini kebanyakan manusia hanya mengejar nilai itu sendiri.

Sayangnya, belakangan ini banyak sekali terjadi penyimpangan dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Pada saat ini di Indonesia, standar penilaian bukan merupakan cerminan dari hasil pengukuran kemampuan anak didik terhadap penerimaan materi, dan atau bukan cerminan pengukuran kemampuan seorang pendidik dalam mentransfer ilmunya.

Penyimpangan ini dapat dibuktikan melalui kenyataan yang ada.

Sejak awal SMP, para siswa di Indonesia telah menerima pelajaran bahasa Inggris. Hingga selama 6 tahun belajar, namun kurang dari 50% (lima puluh persen) lulusan SMA tidak mampu berbahasa Inggris.

Banyak lulusan SMA IPA dengan nilai cukup, bahkan pada saat setelah lulus 3 (tiga) bulan, mereka tidak mampu memahami persoalan-persoalan taktis yang seharusnya bisa diimplementasikan dari ilmu yang didapatnya di SMA.

Banyak lulusan SMA IPS dengan nilai cukup, bahkan setelah lulus, tidak mengetahui posisi-posisi geografis dari sebuah pulau; dari sebuah Negara terhadap Negara lain, atau bahkan tidak mengetahui seorang Daendels.

Penyimpangan ini bukan melulu karena kesalahan pendidik, bukan kesalahan siswa didik, bukan kesalahan orang tua siswa. Ini merupakan kesalahan Negara dalam membuat sistem pendidikan.

Mengingat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945;

“Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia “

Bahwa bila mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan bagian dari tujuan kemerdekaan Kebangsaan Indonesia, maka kemerdekaan kita belum mencapai tujuannya.

Bila nilai tinggi bukanlah cerminan kecerdasan, lalu bagaimanakah kebenaran tentang ukuran penilaian standarisasi mencerdaskan kehidupan bangsa.

a.     Filsafat Dalam Pendidikan

Keprihatinan membawa pemikiran saya dalam sebuah perenungan. Perenungan yang membuat kita senantiasa bertanya, dimana letak kesalahannya, bagaimana seharusnya, dan bagaimana memperbaikinya.

Bahwa selama ini, kita belum secara optimal melakukan pemetaan terhadap sumber-sumber kekayaan budaya, sumber daya bumi, air dan mineral sehingga kita mampu membuat perencanaan pemetaan kebutuhan sumber daya manusia. Dari sinilah kita bisa memulai perencanaan pendidikan, memulai rencana mencerdaskan kehidupan bangsa yang sesuai dengan kondisi sumber kekayaan budaya, sumber daya bumi, air dan mineral yang ada di Indonesia.

Bahwa bila kita tidak optimal dalam melakukan pemetaan terhadap sumber-sumber daya manusia. Kita tidak akan mengetahui seberapa banyak tenaga tani trampil yang diperlukan di pertanian dalam memenuhi kebutuhan pangan utama kita, termasuk pengembangan peralatan demi hasil pertanian yang optimal. Kita belum akan mengetahui seberapa banyak nelayan yang diperlukan di kelautan agar memenuhi kebutuhan hasil laut yang optimal, termasuk pengembangan peralatan agar hasil laut tercapai secara optimal. Belum lagi di bidang peternakan, perkebunan, pariwisata, pertambangan, pendidikan, hukum, dan banyak bidang lain yang merupakan kebutuhan-kebutuhan kehidupan generasi berikutnya di negeri ini.

Secara mendasar kita harus mampu mengembalikan pemikiran bahwa pendidikan adalah:

1.    Penerusan pengetahuan dari sebuah generasi ke generasi berikutnya di kehidupannya;

2.    Persiapan generasi berikutnya agar secara mandiri mampu bertahan dalam menghadapi kehidupannya;

3.    Pembentukan generasi berikutnya agar dapat menjadi bagian dari sebuah kelompok atau komunitas kehidupannya;

Pada dasarnya, bila Negara kita telah mampu melakukan pemetaan dasar-dasar kehidupan yang ada pada sekitar kita, maka tidak akan terlalu sulit membuat rencana mencerdaskan kehidupan bangsa, yang sesuai dengan kondisi sumber kekayaan budaya, sumber daya bumi, air dan mineral yang ada di Indonesia.

b. Pendidikan Perguruan Tinggi

Mahasiswa adalah ujung tombak perubahan bangsa kita ke arah yang lebih baik. Sebagian besar perubahan yang ada di negara ini dimulai oleh mahasiswa

Perguruan Tinggi, sebagai tempat munculnya calon para intelektual negeri harus mengetahui secara jelas tentang TRIDHARMA PERGURUAN TINGGI, tiga pilar dasar pola pikir dan menjadi kewajiban bagi mahasiswa di negara ini.

Tri Dharma Perguruan tinggi meliputi :

1. Pendidikan;

Sebagai kaum  intelektual bangsa, mahasiswa/i dituntut untuk meningkatkan mutu diri secara khusus sesuai dengan disiplin keilmuannya. Gelar merupakan simbol dari kesatuan diri dan disiplin ilmunya. Simbol tersebut merupakan kewajiban bagi dirinya untuk dapat dapat mengimplementasikan keilmuannya bagi kemaslahatan umat di sekitar kehidupannya.

2. Penelitian dan Pengembangan;

Ilmu yang didapatnya melalui perguruan tinggi harus mampu membentuk dirinya menjadi manusia kritis terhadap sekelilingnya. Segala sesuatu memiliki korelasi dengan disiplin keilmuannya, harus menjadi catatan-catatan tersendiri yang dapat menjadi sumber-sumber yang dapat dipercaya sebagai bagian dari perubahan perkembangan zaman yang terus mengalir. Ilmu harus menjadi unsur pemicu bagi perubahan-perubahan yang lebih baik bagi kehidupan sekelilingnya.

3. Pengabdian kepada Masyarakat

Sebutan mahasiswa, adalah arti yang yang tertinggi dari semua siswa. Bagian tertinggi dari sebuah inti kehidupan adalah mengabdi. Mengabdi bukanlah diartikan menghamba pada sebuah keadaan tertentu. Pengabdian berarti mengajak orang-orang sekelilingnya untuk dapat menerima manfaat keilmuannya. Mahasiswa yang telah mendapatkan simbol atas sebuah gelar kesarjanaan harus mampu menjadi pelopor dalam masyarakat, menjadi agen perubahan yang dapat memajukan negaranya.

Sebagai mahasiswi di Universitas Mpu Tantular (UMT), saya mengajak kita untuk mengingat pasal 1 Lampiran SK. Rektor Nomor 11 tertanggal 25 Agustus 1984:

Membentuk manusia pembangunan, berjiwa Pancasila, penuh pengabdian, dan memiliki tanggungjawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara Indonesia.
Mempersiapkan tenaga yang cakap untuk memangku jabatan, mandiri, dan mampu memajukan ilmu pengetahuan.


PERANAN FILSAFAT DALAM PERGURUAN TINGGI

Sebagai mahasiswa, melihat berbagai penyimpangan yang bila dibiarkan terus-menerus akan membawa dampak buruk bagi Negara ini, tentulah menjadi kewajiban untuk dapat melakukan perbaikan.

Perguruan Tinggi harus mampu mengemban amanat kebijaksanaan agar pendidikan terintegrasi dengan jumlah tenaga kerja. Perguruan tinggi harus mampu membuat proyeksi potensi-potensi yang ada di sekelilingnya. Perguruan Tinggi harus mampu menghitung angka perbandingan kebutuhan terhadap potensi yang ada. Keilmuan sebuah perguruan tinggi harus mampu membuat angka-angka statistik yang mendekati kebenaran agar Negara ini mampu membuat perencanaan “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang lebih baik.

Angka statistik menghasilkan pemetaan yang masing-masing akan menentukan dasar-dasar kebutuhan sumber daya manusia sesuai dengan bidang kemampuannya, sesuai dengan sumber daya bumi, air atau mineral nya juga harus sesuai dengan daya dukung nilai-nilai budaya yang ada di sekelilingnya. Pemetaan tersebut akan mampu memprediksi seberapa besar tenaga pendidik yang diperlukan dalam upaya memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang diperlukan sesuai dengan kemampuan.

Sumber daya manusia tersebut harus mampu dirangsang agar mampu terdistribusi secara merata sesuai dengan area kebutuhan di seluruh tanah air.

Mahasiswa lulusan hukum pada akhirnya harus mampu membuat regulasi-regulasi agar tercipta sistem yang menghasilkan kebijakan yang berputar ke segala arah. Regulasi yang dapat membuat terciptanya pendidikan pemenuhan kebutuhan sumberdaya manusia bagi seluruh bangsa Indonesia. Sehingga tercipta pendidikan dan pemenuhan sumber daya manusia yang saling bersinergi.

Pada akhirnya, perguruan tinggi harus dapat ikut terpanggil membenahi kembali sistem pendidikan yang menyimpang. Lulusan kesarjanaan, dengan segala gelar pendidikannya harus bisa mengembalikan “ruh” pendidikan sendiri. Mahasiswa harus mampu memulai dari diri menantang arus dan melakukan tindakan, bahwa hasil akhir pendidikan bukan pada sebuah nilai yang tinggi, tetapi pada sebuah kemampuan yang mampu menjadikan generasi berikutnya menjadi:

1.    Memiliki pengetahuan agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya;

2.    Mampu secara mandiri bertahan dalam kehidupannya;

3.    Mampu membentuk generasi berikutnya menjadi kelompok yang lebih baik dalam komunitas kehidupannya.

Filsafat dalam perguruan tinggi berperan mengembalikan keberadaan para mahasiswa/i, menjadi kumpulan siswa dengan ke “maha” annya. Perguruan tinggi sebisa mungkin bukan tempat mencetak para lulusan untuk menjadi tenaga kerja. Mahasiswa/i sebisa mungkin bukan menjadi bagian yang ikut-ikutan ngantri pada deretan pelamar pada sebuah perusahaan. Perguruan tinggi harus mampu mencetak para pelopor. Gelar sarjana lulusan perguruan tinggi tidak boleh menjadi bagian deret antri pelamar pekerjaan, tetapi harus mampu membuat deret antri bagi sebuah inovasi, menviptakan lapangan kerja baru, dan menjadi bagian dari pembangunan Negara.

Hidup senantiasa berputar, kejujuran akan selalu menjadi kebaikan di masa depan, karena hidup bukan diukur dari apa yang kita punya, tetapi hidup adalah seberapa kemampuan kita melakukan bagi sesama. (Herlina Butar-Butar)

Oleh : Herlina Butar-Butar

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/linapers70/peranan-filsafat-dalam-perguruan-tinggi_56ca00a5137f61ad18cd6662

Friday, February 19, 2016

Titip Pesan Untuk Rio Haryanto

Selamat Rio...

Kemarin (18/2), melalui akun Facebook dan Twitter, Manor Racing mengumumkan telah meresmikan Kau sebagai pembalap keduanya. Dalam siaran di FB yang diberi judul “MANOR RACING SIGNS RIO HARYANTO” itu, sedikitnya mendapat 2.766 Like, 1.895 Share dan lebih dari 400 komentar. Dilihat dari semua Like, Share dan komentar yang sebagian besar adalah orang Indonesia, dan isi komentar positif pertanda mereka turut bahagia dan bangga atas keberhasilanmu (akan) mengemudikan jet darat Manor Racing. Rio, banyak yang mendukungmu.

Usahamu selama ini untuk mencari sponsor, berhasil. Sebagai Pay Driver, Kau memang harus mencari sponsor untuk dibawa ke Manor Racing. Meskipun dana yang harus dibawa ke Manor Racing belum terkumpul penuh, dari target 15 Juta uero. Namun, Kau dipastikan membalap satu musim penuh. Artinya, Kau "dianggap" istimewa oleh Manor, bukan sekedar uang dan sponsor.

Rio, Lima belas juta uero memang bukan uang yang sedikit. Jika dirupiahkan, nilanya setara dengan Rp. 222.645.000.000 (Kurs per tanggal 18 Feb 2016). Sedangkan teman satu team mu, Pascal Wehrlein, “hanya” membayar 5 juta Euro. Ia hanya harus membayar sepertiga dari kewajiban Rio karena Wehrlein hadir dengan membawa mesin dari Mercedes. Mesin yang juga nantinnya akan kau mainkan. 



Kebanggaan Membalap dan Naik Podium

Sebagai orang yang fokus di bidang teknik otomotif, saya senang dan turut bangga atas keberhasilanmu menuju F1. Kau memang pantas mendapat kesempatan menjajal kasta tertinggi dari balap mobil. Saya cukup mengerti bagaimana perasaanmu ketika membalap dan naik podium. Saya memang belum pernah membalap, apalagi naik podium. Tetapi, aura membalap dan naik podium “pernah” saya "rasakan" ketika tahun lalu, 2014 dan 2015, beberapa mahasiswa saya berhasil naik podium di ajang International Student Green Car Competition (ISGCC) di Korea Selatan. Mereka meraih gelar Runner Up di tahun 2014 dan Juara Umum (Best of the Best) pada 2015.


Ajang ISGCC di Korea Selatan dan SFJ di Jepang, 2015
Meskipun saya tidak ikut ke Korea, dan hanya menyaksikan melalui video dan foto yang dikirim oleh dosen lain yang ikut ke Korea, tetapi saya bisa merasakan bagaimana suasana balapan dan podium. Suasana ketika Merah Putih berkibar dan Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Bahkan saya sempat meneteskan air mata. Air mata haru dan bangga, karena mahasiswa bisa membuktikan bahwa Indonesia bisa membangun teknologi otomotif dan meraih gelar juara di Korea Selatan. Padahal, Kita tahu, teknologi otomotif di Korea Selatan jauh lebih maju dari tempat Kita, jauh sekali.

Pada akhir tahun 2015 kemarin, Mereka menjajal Student Formula Japan (SFJ) di Jepang, untuk pertama kalinya. Yang mana SFJ merupakan Formula1-nya mahasiswa dunia. Tekad Mereka untuk menjajal Formula1-nya pelajar, tak kalah dengan tekadmu menjajal Formula1 yang sebenarnya. Meskipun mereka tidak juara, tetapi saya tetap bangga atas keberhasilan mereka menuju Jepang. Rio, teruslah menyebarkan tekad kuat dan motivasi tinggi ke seluruh pemuda Indonesia.

Dengan mendapat kesempatan mengikuti balapan Formula1 -yang merupakan kompetisi yang menyita perhatian dunia- saya berharap Kau dapat memaksimalkan potensimu, agar dapat naik podium. Meskipun saya yakin, Kau akan berusaha maksimal, tetapi kita tahu, bahwa kau tidak bertarung sendiri. Kau memiliki rekan 1 team, Pascal Wehrlein, rekan yang bisa menjadi teman dan lawan. Saya pun yakin kau telah memperhitungkan ini, tapi jangan sampai "kecolongan". Wehrlein adalah pembalap binaan Mercedes, pembalap kesayangan Mercedes. Jadi, tak perlu ditanyakan lagi bagaimana kemampuannya dan kepentingan apa yang akan Ia perjuangkan.

Rio, Pembalap asal Jerman itu tentu memiliki kepentingan dan harapan untuk menjadi juara ditiap serie-nya. Pun Manor Racing, yang memiliki kepentingan lain dan wewenang untuk “mengatur” kalian berdua serta mengontrol agar kalian tidak saling “membunuh”. Artinya, untuk menjadi juara, banyak faktor yang mempengaruhi, selain performa mobil, skill membalap dan kondisi sirkuit, ada factor lain yang tidak kalah menentukan, yaitu Team yang menaungi dan rekan 1 team.

Sehingga, saya berharap agar Rio tidak hanya berfokus mengasah skill membalap dan mempelajari karakter sirkuit, tetapi juga mampu “membaca” dan “mempelajari” kepentingan. Kepentingan yang dibawa dan akan diupayakan oleh Manor Racing dan Pascal Wehrlein.

 Untuk Apa 15 Juta Uero?

Rio, Banyak masyarakat yang bertanya-tanya, untuk apa uang sebanyak itu?. Dan tak sedikit yang sinis, daripada untuk balapan –yang belum tentu menang-, mending uangnya untuk yang lain!. Anggapan seperti itu memang tidak bisa disalahkan, tapi tidak serta merta dibenarkan.

Kita tahu bahwa biaya yang dibutuhkan untuk mengikuti Formula1 disetiap serinya, sangatlah besar. Untuk membangun sebuah mobil standar Formula1 saja dibutuhkan dana tak kurang dari 6 Juta poundsterling (sekitar Rp 125M). Dengan biaya tertinggi digunakan untuk membangun mesin, kemudian Chassis, Transmisi, body (sayap) dan perlengkapan lainnya. Ada biaya lain yang juga tidak sedikit, yang digunakan operasional (akomodasi dan transportasi) disetiap seri. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari berbagai sumber, Jumlah berat seluruh peralatan yang harus dibawa setiap tim F1 untuk satu kali balapan mencapai 28 ton. Terdiri atas spareparts, tools, peralatan pit-stop termasuk chassis cadangan. Belum lagi perhitungan biaya untuk bahan bakar dan kebutuhan ban yang tidak sedikit. Jadi, “wajar” jika Kau –sebagai Pay Driver- harus menyiapkan ratusan Milyar Rupiah agar dapat mengikuti ajang balap paling Top ini.

Sebagai gambaran (meskipun jauh dibandingkan dengan Formula1), Untuk mengikuti ISGCC di Korea Selatan dan SFJ di Jepang tahun lalu, total dana  yang dihabiskan lebih dari Rp 2 Milyar (untuk aspek teknik dan non teknik). Dana tersebut diperoleh dari universitas dan puluhan sponsor. Sama sepertimu-Rio-,  para mahasiswa berusaha keras mencari bantuan dana, keluar masuk perusahaan, mulai dari perusahaan mikro hingga perusahaan skala internasional. Untuk ajang kompetisi otomotif skala kecil saja menghabiskan dana Rp 2 M lebih, apalagi untuk Formula1. Dana itu termasuk rendah karena mobil yang Mereka gunakan untuk kompetisi benar-benar buatan sendiri. Mereka membangun mobil dari Nol. Sehingga, pembiayaan untuk aspek teknik dapat ditekan. Bagi kami, itu bukan dana yang sedikit. Uang, waktu dan tenaga yang difokuskan untuk ISGCC di Korea Selatan dan SFJ di Jepang, bukan sekedar untuk branding Universitas di dalam dan luar negeri. Tetapi ini lebih pada upaya pengembangan teknologi otomotif khususnya di Indonesia dan memotivasi untuk perkembangan-perkembangan teknologi lain.

Sehingga, dengan perolehan sponsor dan kesempatan mengikuti Formula1, saya berharap Kau dapat menjadi “Mediator” adopsi teknologi, khsusunya otomotif. Meskipun Kami tahu, kau telah memiliki banyak pengetahuan teknologi otomotif di GP2, tetapi F1 menggunakan teknologi yang lebih canggih. Saya berharap, Kau bukan hanya mengasah keterampilan membalap, tetapi juga mempelajari bagaimana teknologi yang ditanamkan di Formula1. Agar nantinya, pengetahuan tersebut dapat “ditransfer” ke Indonesia dan memotivasi perkembangan teknologi otomotif di Indonesia.



Arti Lain dari 15 Juta Uero

Rio, banyak yang bisa dilakukan dengan uang 15 Juta Uero atau lebih dari Rp 222M, selain untuk balapan di F1. Salah satunya dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang sangat vital dan dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, yaitu pendidikan. Sebagai orang yang bekerja di bidang pendidikan, sempat terbesit dipikiran, bahwa banyak yang bisa dilakukan dengan uang Rp 222M itu untuk menguatkan dan mengembangkan pendidikan di Indonesia (diluar dana yang memang dialokasikan khusus untuk pendidikan). Uang tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun sekolah atau melengkapi fasilitas sekolah, khususnya di daerah terpencil yang selama ini jarang disentuh pemerintah pusat. Saya yakin, Kau tentu pernah mendengar berita mengenai kondisi sekolah di daerah terpencil.

Memiliki pengalaman monitoring kondisi sekolah diberbagai daerah, khususnya daerah di Luar Jawa, membuat saya berkhayal “Uang Rp 222M itu bisa digunakan untuk melengkapi sarana dan prasarana pendidikan di daerah terpencil”. Katakanlah untuk menambah sarana dan prasarana di sekolah daerah terpencil membutuhkan biaya Rp 2M. Maka 111 sekolah, terselamatkan. Dan puluhan, bahkan ratusan ribu siswa mampu menikmati pendidikan yang layak. Sehingga, upaya pemerataan kualitas pendidikan di berbagai daerah dapat terwujud. Tapi, kau tak perlu memikirkan itu, Rio. Fokuslah membalap dan meraih gelar juara. 


Atau begini Rio: sebagian uangnya digunakan juga untuk menambah honor/tunjangan guru yang mengabdi di daerah terpencil. Seperti yang juga banyak diberitakan media, kehidupan ekonomi guru yang mengabdi di daerah terpencil, sangatlah meprihatinkan. Rio, Mereka mendapat gaji yang sangat kecil, dengan biaya hidup yang tinggi. Jika setiap guru yang mengabdi di daerah terpencil mendapat tambahan honor Rp 1juta/bulan, maka ribuan guru untuk beberapa tahun ke depan, mendapat kehidupan yang lebih layak. Saya yakin mereka pantas mendapatkan itu. Tapi -sekali lagi-, kau tak perlu memikirkan itu, Rio. Fokuslah membalap dan meraih gelar juara. Biarlah pemerintah yang memikirkan dan merealisasikannya.

Maksud Saya menceritakan ironisnya pendidikan di tempat kita, agar Kau benar-benar bisa memanfaatkan kesempatan berharga yang langka dan tidak murah ini. Sedikit saya ceritakan: ketika dulu mendapat beasiswa S2 dari pemerintah, saya berusaha untuk belajar sebaik-baiknya, mencari ilmu sebanyak mungkin, melakukan penelitian yang bermanfaat untuk masyarakat dan lulus secepatnya. Jika tidak, saya akan sama dengan koruptor yang menzalimi rakyat, memakan uang rakyat. Karena dana beasiswa dari pemerintah asalnya dari rakyat. Alhamdulillah, saya berhasil mencapai target dan sekarang mengabdi di dunia pendidikan. Jadi Rio, jangan menzalimi sponsor yang telah mendukungmu.

.

 Rio, Selamat Berjuang!

Rio, kau adalah orang Indonesia pertama yang berhasil masuk Formula1. Kau memiliki potensi yang luar biasa dan masih sangat bisa dikembangkan. Jangan mengecewakan sponsor dan rakyat Indonesia yang telah mendukungmu, yang turut bangga atas raihanmu ke F1. Raihlah podium tertinggi, kibarkan Merah Putih dan Kumandangkan Indonesia Raya!

Salam Indonesia Jaya... Salam Otomotif!

Oleh : Yosep Efendi
*Kompasiana